Senin, 11 Januari 2016

Berapa Banyak Hardisk Komputer yang Terpasang di Kepala Kita?


Banyak sekali orang di sekitar kita yang mengeluhkan akan adanya teman yang pelupa, atau mungkin diri kita sendiri juga sering menjadi seorang pelupa? Pastinya kita pernah lupa akan suatu hal, dari hal yang penting hingga yang sangat kecil atau sepele.

Seringkali kita menyimpan catatan penting di memo handphone, sticky note, ms. word di komputer ataupun laptop. Kenapa? Karena kita berpikir komputer memiliki hardisk yang besar untuk menampung catatan sehingga tidak akan hilang bukan?

Apakah kamu tahu? Manusia diciptakan oleh Allah Swt. dengan memiliki kapasitas penyimpanan sampai 180 quintillion bit (280.000.000.000.000.000.000). Coba kita bayangkan berapa banyak hardisk komputer yang terpasang di otak kita? Mau membayangkan? Lebih baik kita langsung bersyukur kepada Allah Swt. yang telah menciptakan manusia dengan begitu luar biasa.

Lalu, kenapa kita sering lupa akan suatu hal? Padahal kita memiliki penyimpanan yang sangat besar untuk mengingat apapun yang kita inginkan di dalam otak kita. Jadi, masalahnya bukan pada ingatan kita, melainkan pada diri kita yang sering menganggap tidak penting suatu hal tersebut.

Menurut Eric Jensen dan Karen Markowitz kita jadi pelupa disebabkan oleh:
a.       Terlalu cuek / tidak peduli
Kita biasa menganggap suatu hal dengan remeh, sehingga mendengarkan dan memperhatikan seenaknya saja.
b.      Gangguan
Setiap orang akan kesulitan untuk fokus memperhatikan atau mendengarkan sesuatu jika diganggu.
c.       Kerusakan syaraf otak
Hal ini terjadi karena jarangnya kita melatih ingatan
d.      Tekanan
Coba kita ingat sesuatu saat kita dalam keadaan tertekan, sangat sulit bukan?
e.       Stress
Menurut ahlinya, stress yang tidak berat ia akan meningkatkan ingatan jangka panjang yang namanya eustress. Dan jika stress berat ia akan mempengaruhi ingatan namanya distress
f.       Lupa apa petunjuk ingatan
Tiba-tiba kamu berada di perpustakaan, “Tadi saya ingin mencari buku apa ya?” kamu bergegas pergi dari tempat itu. “Oh iya saya baru ingat ternyata saya mau cari buku filsafat”
g.      Gangguan fisik
Hal ini disebabkan oleh penyakit seperti amnesia, masalah sosial seperti cemas atau sedih yang berkepanjangan. (Belajar Itu Maknyuss!, Abu Fathimah)

Sudah tahu bukan apa saja kendalanya kita menjadi seorang pelupa? Sudah punya gambaran untuk mengatasinya? Jika belum, simaklah kisah di bawah ini yang akan memberikan resep jitu agar ingatan kita tidak mudah hilang.

Sejak umur 7 tahun ia sudah hafal al-Qur’an, umur 15 tahun sudah mendapatkan rekomendasi mengeluarkan fatwa, menghafal al-Muwaththa karya Imam Malik lengkap dengan sanadnya dalam 9 malam, orang yang pertama kali merumuskan kaidah ushul fiqih, membuat 1000 kesimpulan hukum lengkap dengan dalilnya dalam semalam, membaca buku halaman sebelahnya harus ditutup karena jika sempat terlihat maka akan terhafalkan. Ketika didikte, sebelum gurunya membaca ulang semua ia sudah hafal. Dialah Imam Syafi’i salah satu imam yang terkenal. Tetapi pernah suatu hari ia sedang belajar, sedang menyetor hafalan, dan ternyata hafalannya tersendat. Maka gurunya bertanya “Syafi’i ada apa? Kok tidak biasanya?” Imam menjawab “saya tidak tahu guru” Sang guru mengatakan “memangnya pernah terjadi apa?” Imam menjawab “kemarin saya sedang duduk di depan rumah, ketika itu ada seorang wanita lewat dan tumitnya tersingkap oleh angin” tegas gurunya berujar “Ilmu adalah cahaya dan cahaya takkan bisa masuk karena kemaksiatan”.

Astaghfirullah, hanya dengan melihat tumit seorang wanita yang bukan mahramnya tanpa sengaja saja telah berefek terhapusnya sebagian ilmu atau memori ingatan kita. Bagaimana dengan maksiat yang dilakukan dengan sengaja? Seperti mencontek kanan kiri saat ujian hanya untuk menghias raport atau IPK. Astaghfirullah, semoga kita selalu terlindung dari perbuatan maksiat yang disengaja maupun tidak disengaja, karena kinerja maksiat sekecil apapun akan berdampak pada diri kita sendiri.

Jadi, manusia sering menjadi seorang pelupa bukan karena masalah yang terjadi pada otak atau daya ingatnya. Tetapi terjadi karena perilaku dan kebiasaan manusia itu sendiri. Semoga sedikit goresan ini menjadi bermanfaat untuk membantu kita semua dalam proses belajar dan mempertahankan hafalan-hafalan, atau ingatan-ingatan positif lainnya. 

2 komentar: